Tadjuddin Nur dan Bahasa Melayu Betawi yang Terancam Punah

Dr. Tadjuddin Nur, S.S., M.M

Di Setu Babakan Jagakarsa, Jakarta Selatan, bahasa Melayu Betawi masih digunakan hingga saat ini. Namun, perkembangan kota metropolitan bisa mengancam kepunahan bahasa ini.

Tadjuddin Nur, S.S., M.M berhasil meraih gelar Doktor dari Program Studi Ilmu Linguistik Program Pascasarjana Universitas Hasanuddin, Makassar. Gelar Doktor diperoleh setelah Tadjuddin Nur, yang juga menjadi dosen pada Program Studi Sastra Indonesia Universitas Nasional, berhasil mempertahankan disertasinya yang berjudul “Pemertahanan Bahasa Melayu Betawi di Setu Babakan Jagakarsa, Jakarta Selatan”.

Selain itu, Tadjuddin Nur, S.S., M.M mendapatkan predikat Sangat Memuaskan setelah menempuh program doktoral selama lima semester masa studinya, serta dalam sidang terbuka doktoral Program Studi Ilmu Linguistik Program Pascasarjana Universitas Hasanuddin Makassar dengan promotor Prof. Dr. Lukman, MS., yang dilaksanakan pada hari Kamis (25/02/2021) di aula Universitas Nasional dan Gedung Universitas Hasanuddin Makassar secara virtual.

Dalam disertasinya, Tadjuddin Nur menemukan ada 3 besaran sebab digunakannya bahasa Melayu Betawi di Setu Babakan hingga saat ini. “Setidaknya ada tiga besaran sebab di Setu Babakan yang masih menggunakan bahasa Melayu Betawi. Pertama, transmisi bahasa masih terjadi di Setu Babakan, Kedua karena loyalitas bahasa untuk mempertahankan bahasa Betawi masih positif, dan ketiga penggunaan bahasa Melayu pada ranah keseharian masih berlangsung,” terangnya dalam sidang.

Ia juga menjelaskan bahwa seiring perkembangan ibukota menjadi kota metropolitan, penduduk Betawi tergusur ke pinggir-pinggir kota. “Derasnya urbanisasi ke ibukota sejak kemerdekaan hingga kini menjadi banyak penduduk Betawi yang tidak punya pilihan lain untuk pindah ke pinggiran kota Jakarta,” katanya.

“Fenomena menarik tentang penggunaan bahasa Melayu Betawi di perkampungan Betawi Setu Babakan. Walaupun kawasan disana sudah dikepung oleh modernisasi dan globalisasi namun penggunaan bahasa melayu Betawi masih bertahan,” jelasnya.

Selain dosen di Unas, Tadjuddin Nur, S.S., M.M juga sempat menjabat sebagai Kepala Suku Dinas Pendidikan Jakarta Barat. Melalui sidang doktoral ini, ia juga memberikan pesan kepada seluruh masyarakat, khususnya warga Betawi untuk melestarikan Bahasa Melayu Betawi.

“Bahasa Melayu Betawi sekarang ini sudah masuk pada masa yang terancam punah. Bahasa Betawi Melayu sudah pada tahap endangered language, saya harap penelitian saya bisa menjadi rangsangan untuk penelitian lanjutan yang kemudian dapat mempengaruhi pemertahanan Bahasa Melayu Betawi,” harap Tadjuddin.

Sidang terbuka promosi Doktor Universitas Hasanuddin Makassar ini dihadiri pula oleh Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan Dr. Drs. Zainul Djumadin, M.Si, Dekan Fakultas Bahasa dan Sastra UNAS dan Segenap dosen UNAS dan UNHAS.

Pada sambutannya, Dekan FBS UNAS Drs. Somadi, M.Pd memberikan apresiasi kepada Tadjuddin. “Selamat atas prestasinya meraih gelar Doktor Bidang Ilmu Linguistik di UNHAS, semoga ilmu yang diambil dapat memotivasi dan menyemangati para dosen- dosen di Fakultas Bahasa dan Sastra UNAS dan UNHAS untuk melanjutkan studinya,” kata Somadi.(*TIN)