Sepeda Motor, Pengendalian dan Payung Hukumnya [1]

Penggunaan sepeda motor di Indonesia mengalami peningkatan luar biasa. Data tahun 2010 menunjukkan perbandingan mengejutkan. Dengan jumlah penduduk 239.641.326 orang di tahun 2010, perbandingan pengguna sepeda motornya adalah 1 : 3,8 atau setiap satu sepeda motor digunakan oleh 4 orang.

 

Dua peneliti dari Fakultas Hukum Universitas Nasional melakukan riset terkait dengan kebijakan pengendalian sepeda motor dalam sistem transportasi nasional. Hasil riset ini telah diterbitkan dalam jurnal Lex Jurnalica, Volume 10 Nomor 1, April 2013.

Dua peneliti tersebut adalah Surajiman dan Diah Ratu Sari Harahap. Dalam risetnya, keduanya melihat bahwa pertumbuhan sepeda motor yang sedemikian besar, bisa memberi dampak negatif pada kehidupan masyarakat, khususnya dalam transportasi darat.

Namun ada juga dampak negatif. Di antaranya adalah menimbulkan kemacetan, kecelakaan yang melibatkan sepeda motor, sumbangan emisi, boros BBM, dan tindak kriminal.

Surajiman dan Diah Ratu Sari Harahap dalam risetnya menuliskan bahwa dinamika perkembangan suatu wilayah sangat terkait dengan penataan sistem transportasi. Kebijakan yang tidak tepat di bidang transportasi secara tidak langsung dapat menjadi penyebab munculnya persoalan di berbagai bidang seperti ekonomi, politik, lingkungan bahkan sampai pertahanan dan keamanan, dan lain-lain.

Tujuan utama dari transportasi adalah memindahkan orang dan atau barang dari satu tempat ke tempat tujuan. Dalam transportasi massal, di samping tujuan tersebut, hal yang selalu menjadi perhatian pemerintah, pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota dalam berlalu lintas adalah keselamatan.

Faktor keselamatan menjadi agenda pemerintah karena didasarkan pengalaman bahwa kuantitas dan kualitas kecelakaan cenderung lebih tinggi dibandingkan usaha-usaha yang telah dilakukan.

Pada sisi lain, mengingat belum sempurnanya moda transportasi massal, ditambah meningkatnya harga bahan bakar minyak (BBM), mendorong masyarakat turun pada kualitas hidup yang lebih rendah. Hal ini disebabkan beban biaya hidup semakin tinggi sedangkan penghasilan mereka relatif tetap.

Akibat naiknya harga BBM dan suku cadang kendaraan bermotor, beberapa kota menengah Indonesia mengalami dampak peningkatan biaya transportasi sampai 40% dalam pengeluaran rumah tangga. Jumlah uang yang dibelanjakan masyarakat untuk transportasi darat setiap hari mencapai 1,55 trilyun rupiah. Hal ini semakin membuktikan bahwa transportasi menjadi komponen penting dalam ekonomi nasional. (MTI, 2004)

Dalam dunia transporatasi terdapat beberapa moda: transportasi darat, laut dan udara. Dari ke tiga jenis moda transportasi ini, masyarakat paling banyak menggunakan transportasi darat.

Karena itu sangat beralasan bila masyarakat menganggap bahwa transportasi darat di samping memiliki sisi baik, juga terdapat dampak buruk. Ini menegaskan kondisi nyata bahwa moda transportasi darat saat ini, selain sisi pelayanan, segi keamanan dan kenyamanan pun bisa mendapat sorotan negatif yang tinggi (Heru, 2007).

Kondisi tersebut terutama dirasakan oleh banyak pengguna jasa transportasi yang merasa tidak puas dengan upaya pemerintah dalam memberikan pelayanan transportasi kepada masyarakat selama ini. Hal ini ditandai dengan minimnya infrastruktur dan suprastruktur, yang kemudian menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi penilaian masyarakat pada transportasi di Indonesia.

Keadaan ini membuat masyarakat menjadi tidak nyaman dan resah sehingga mengurangi kepercayaan masyarakat pada pemerintah.

* * *

Belakangan ini, penggunaan sepeda motor sebagai sarana transportasi semakin diminati masyarakat baik di perkotaan maupun di pedesaan. Sepeda motor memiliki karakteristik sendiri karena keluwesan dan harga yang terjangkau sehingga menjadi andalan dalam bertransportasi untuk situasi dan jarak tertentu.

Konsekuensi dari kemudahan dalam menggunakan sepeda motor menyebabkan jumlah sepeda motor tumbuh sangat cepat, yang menurut data dari Badan Pusat Statistik jumlah sepeda motor tahun 2010 berjumlah 61.078.188 unit.

Angka ini sangat mencengangkan jika bandingkan dengan jumlah kendaraan lainnya seperti mobil penumpang (8.891.041) unit, bis (4.687.789) unit, dan truk (2.250.109) unit.

Jumlah sepeda motor kalau dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia tahun 2010 (239.641.326) orang adalah 1: 3,8, artinya setiap satu sepeda motor digunakan hampir oleh 4 orang.

Dibandingkan dengan pertumbuhan panjang dan ruas jalan, angka itu memperlihatkan fenomena yang tidak seimbang. Hal ini terlihat dari gejala menumpuknya kendaraan bermotor terutama sepeda motor yang memenuhi jalanan sehingga menimbulkan kemacetan, kerawanan, kecelakaan hingga besarnya penggunaan bahan bakar minyak (BBM).

Kecelakaan yang terjadi pada penggunaan kendaraan bermotor di Indonesia pada tahun 2012 sebanyak 8.032 yang 5.710 diantaranya melibatkan sepeda motor (72 persen).

Keadaan tersebut menggambarkan bahwa penggunaan sepeda motor sebagai sarana transportasi cenderung memberi dampak negatif baik karena pertumbuhannya yang meningkat drastis, sampai pada jumlah kecelakaan yang melibatkan sepeda motor.

Karena alasan inilah, kedua peneliti dari Unas ini mengkaji beberapa persoalan penting terkait dengan pertumbuhan sepeda motor ini. Permasalah yang secara khusus dikaji adalah:

1. Apa saja masalah-masalah yang ditimbulkan oleh sepeda motor sebagai salah satu sarana transportasi;

2. Apa sajakah yang telah dilakukan pemerintah dalam menangani persoalan yang transportasi khususnya yang ditimbulkan oleh sepeda motor;

3. Bagaimana gagasan pengaturan pengendalian sepeda motor dalam sistem transportasi nasional yang diharapkan di masa mendatang.(bersambung)