Resensi Buku: Hidup di Luar Tempurung Benedict Anderson

ben anderson
Cover Buku (Marjin Kiri)

Ben Anderson (1936–2015) adalah nama besar. Juga, di Indonesia.  Dia adalah salah satu peneliti kajian Asia tenggara yang paling terkenal. Seorang professor di Cornel University dan merupakan salah satu pendiri jurnal Indonesia.

Oleh: Astri Chairina
Universitas Nasional

Ben Anderson
Benedict_Anderson (foto: wikipedia)

Nama lengkapnya Benedict Richard O’Gorman Anderson. Karya–karyanya yang terkenal antara lain: Imagined Communities : Reflections on the Origin and Spread of Nationalism (1983), Java in a Time of Revolution : Occupation and Resistance (1972), dan Language and Power : Exploring Political Cultures in Indonesia ( 1990).

Karya–karya yang dihasilkan oleh Anderson berupa esai, jurnal dan tulisan–tulisan ilmiah sering dijadikan sebagai rujukan bagi para peneliti pada kajian Asia Tenggara.

Lantas, bagaimana jika kita ingin mengkaji seorang Benedict Anderson sendiri?

Mencari tulisan tentang seorang Benedict Anderson, ternyata tidak seperti yang saya bayangkan. Mencari buku-buku tentang itu, hampir tidak saya temukan di rak–rak toko atau pameran buku.

Karya yang mengungkap tentang Benedict Anderson, justru saya temukan di sebuah acara festival literasi di Jakarta, dimana kita bisa mendapatkan buku-buku anti mainstream yang masih jarang dijumpai di toko buku besar. Dan, di antara buku–buku biografi lain yang berada di rumah saya, buku tentang Benedict Anderson adalah satu–satunya karya otobiografi mengenai seorang peneliti yang saya miliki saat ini.

Hidup di Luar Tempurung adalah sebuah karya yang menceritakan mengenai berbagai proses dan perjalanan yang menjadikannya sebagai seorang ‘Benedict Anderson’.

Buku ini pada awalnya dibuat karena adanya desakan dari seorang penerbit Jepang, Nona Endo Chico yang merasa bahwa banyak mahasiswa–mahasiswa di Jepang yang tak punya bayangan mengenai konteks sosial, politik, budaya dan zaman tempat dimana para ilmuan Anglo-Saxon lahir dan menempa dirinya di bidang keilmuan.

Di antara banyaknya biografi mengenai tokoh–tokoh “Barat”, tidak sebanding dengan biografi mengenai peneliti Barat. Nona Endo kemudian membujuk Anderson untuk menuliskan mengenai latar belakang sebagai seorang akademisi dalam bentuk sebuah buku tipis.

Buku tersebut nantinya akan berisi mengenai pengalaman–pengalamannya mengenyam pendidikan di Irlandia, Inggris, hingga kerja–kerja lapangannya di Indonesia, Siam dan Filipina.

Setelah selesai dikerjakan dengan batuan dari kawan–kawannya, termasuk Nona Endo sendiri, buku Hidup di Luar Tempurung kemudian diterbitkan pertama kali dalam bahasa Jepang dengan judul “Yashigarawan no soto e“. Setelah itu, buku ini diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dengan judul “A life Beyond Boundaries” dan diterbitkan atas dorongan dari adiknya yang bekerja pada penerbit versi di Inggris. Kemudian diterbitkan juga dalam bahasa Indonesia oleh penerbit Marjin Kiri.

Dalam versi Indonesia, buku ini diterjemahkan langsung oleh pemimpin redaksi Marjin Kiri yaitu Rony Agustinus. Tulisan–tulisan dalam buku ini dikemas dalam bahasa yang cukup ringan dan mengalir seperti sebuah cerita.

Ada satu hal yang cukup menarik dalam pemilihan kata yang ada dalam buku ini, meskipun pada awalnya untuk saya sendiri terasa agak sedikit aneh dan mengganggu.

Ronny Agustinus, sebagai penerjemah menggunakan kata “Bokap“ dan “Nyokap“ sebagai sebutan yang digunakan oleh Anderson dalam menceritakan kedua orangtuanya. Sesuatu yang lucu pada awalnya, melihat ada selipan bahasa slank sehari–hari di tengah penggunaan kata–kata lainnya.

Namun sebenarnya akan menjadi tidak tanggung apabila sekalian saja kata “Saya“ juga diganti menjadi “Gue“.

Cerita kehidupan yang tertulis dalam buku ini diawali dengan kisah kehidupan Anderson semasa kecil hingga remaja yang terus berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya.

Pada bab ini, Anderson menceritakan bagaimana kondisi latar belakang keluarga yang mendekatkan Anderson dengan beragam budaya sejak masa kanak–kanak. Yang paling menarik bagi saya, adalah bagaimana Anderson menceritakan bahwa kedua orangtuanya lah yang sebetulnya menanamkan sifat–sifat intelektual dalam dirinya.

“Tidak benar dibilang ortu saya adalah intelektual dalam pengertiannya yang ketat. Bersama–sama mereka memberi anak–anaknya perpustakaan rumah yang tak ada bandingannya di kota kecil tempat kami tinggal. Mereka juga mendorong kami terbiasa membaca tentang kehidupan, pengalaman, dan pemikiran orang–orang yang berbeda bahasa, berada di kelas dan wilayah yang berbeda, serta berasal dari periode kesejarahan yang berbeda.“ Demikian Anderson menulis tentang orangtuanya.

Hal ini mengingatkan saya akan kebiasaan orangtua yang menurun kepada saya sebagai anak mereka: membeli buku tanpa menimbang kapan buku–buku tersebut akan selesai dibaca, sampai akhirnya menumpuk di sudut–sudut ruangan hingga membentuk sebuah perpustakaan kecil di rumah kami.

Pada bagian ini Anderson juga menceritakan bagaimana kebiasaannya dalam membaca apa saja yang menarik minatnya. Sebagian besar merupakan sastra dan sejarah. Ia bahkan menyimpan buku–buku catatan tempat ia menyimpan hal–hal penting yang ia temukan dalam bacaannya.

Bagaimana ia menggambarkan dirinya sebagai sosok yang pemalu, canggung dan kurang populer di antara cewek–cewek di sekolahnya. Serta bagaimana ketertarikannya pada sinema–sinema Jepang.

Setelah itu pada bab selanjutnya, cerita kemudian mengalir pada pembahasannya mengenai kajian wilayah, pengalaman kerja lapangan yang menjadi titik tolaknya sebagai seorang peneliti wilayah Asia, kajian komparatif, pendekatan interdisipliner, hingga renungan pribadinya semasa pensiun.

Dalam buku ini, Anderson juga menceritakan bagaimana awal mula ia jatuh cinta pada Indonesia. Di Indonesia, Anderson pertamakali menemukan apa yang ia sebut sebagai “sensasi syok”.

Sesuatu yang saya lihat sebagai titik awal penentuan dari jalan hidup seseorang. Anderson pertama kali menginjakkan kakinya di Jakarta pada akhir Desember 1961, hingga kemudian menetap hingga April 19964.

Ia menceritakan ingatannya mengenai hal pertama yang menyentaknya tatkala melakukan perjalanan ke Kota saat berada di dalam taksi yang jendelanya terbuka.

Bau–bauan pepohonan, semak–semak segar, bau kencing, dupa, lampu minyak, sampah hingga aroma masakan yang berasal dari warung – warung kecil di pinggir jalan.

Dalam buku ini, saya menemukan bahwa Benedict Anderson adalah seseorang yang sama sekali tidak ragu dalam memberikan sebuah kritik atas apa yang menurutnya salah. Saya sering menemukan keluhan yang dikemukakan olehnya tentang model pendidikan di perguruan tinggi yang seringkali terlalu mengikuti intervensi Negara yang menghendaki pendidikan sebagai sebagai media pelatihan tenaga kerja profesional yang hanya bertujuan untuk menunjang pertumbuhan ekonomi semata.

Pada bab pembahasan Interdisipliner, Anderson menuliskan pandangannya mengenai kondisi para mahasiswa yang menjadi keresahannya. “Saya katakan “secara professional” sebab mereka dilatih, dan bukan dididik dalam pengertian yang umum, idenya adalah untuk membuat mereka siap bersaing –sesudah disertasinya kelar– dalam apa yang mulai diistilahkan sebagai “bursa kerja akademik”.

Saya menangkap bahwa ia melihat bagaimana fungsi utama gelar akademik akhir–akhir ini hanyalah sebagai syarat orang untuk meningkatkan status ekonomi ke dalam kelas sosial yang dianggap mapan. Sedangkan fungsi dan pemaknaan pendidikan tinggi sebagai “pendidik” yang mencetak intelektual dalam pengertian ketat untuk ilmu pengetahuan itu sendiri semakin ditinggalkan.

Sebagai murid, sejak SMA saya sering merasa terganggu dengan motivasi yang diberikan oleh guru–guru saya di sekolah mengenai kenapa nilai–nilai harus selalu memenuhi standar sehingga dianggap layak untuk melanjutkan kuliah ke Universitas Negeri.

Jawabannya seringkali adalah agar kami para calon lulusan ini mampu bersaing di dunia kerja. Iming–iming mendapatkan pekerjaan di sebuah perusahaan besar selalu lebih sering dijadikan motivasi oleh para pendidik kepada muridnya, daripada memberikan dorongan untuk belajar lebih banyak lagi agar bisa menyelesaikan permasalahan–permasalahan masyarakat di luar sana sesuai dengan bidang apa yang kami minati.

Sebagai seorang akademisi, Anderson tidak setuju dengan pengkotak–kotakan ilmu. Ia berpendapat bahwa seorang ilmuwan harus terbuka dan berani menjelajah ke berbagai bidang ilmu demi bisa memahami sebuah realitas secara holistik.

Seperti ketika ia membahas nasionalisme. Daripada menggunakan banyak kutipan mengenai teori politik, ia lebih banyak melihat permasalahan melalui kajian budaya untuk menjelaskan kekuatan politik tunggal dan kerangka kerja yang melandasinya.

Penjelasan yang semacam itu menurut saya justru lebih mendalam dibandingkan kita hanya melihat sekedar kajian politik saja. Ia pun sering menganjurkan mahasiswa–mahasiswanya untuk meruntuhkan sekat–sekat disiplin ilmu dengan banyak membaca buku dari ranah disiplin ilmu lain guna sudut pandang baru.

Dalam pembahasan Kerangka Perbandingan, Anderson menekankan bahwa penting untuk disadari bahwa komparasi bukanlah metode akademik; melainkan suatu strategi diskursif.

Dengan memberikan contoh dari hasil kerja lapangannya, di sini ia ingin menyampaikan mengenai sebuah hal penting yang dapat dipetik dalam kerja–kerja lapangan.

Pengalaman tersebut seperti adanya gegar budaya, kebingungan dalam berkomunikasi di tempat asing, perbedaan pola pikir masyarakat yang memaksa peneliti untuk keluar dari sudut pandang pribadinya dan masuk kedalam sudut pandang baru untuk bisa memahami sebuah budaya yang ia rasakan.

Komparasi yang baik kerap berasal dari keasingan dan ketidakhadiran. Dimana pada titik tersebut, kita cenderung memiliki jarak yang cukup untuk melihat banyak detil yang terjadi di sekeliling kita.

Ada banyak hal yang saya serap dari pengalaman–pengalaman yang dituliskan dalam buku ini. Saya menyimpulkan bahwa Benedict Anderson, di luar keberuntungannya dalam mendapatkan landasan keilmuan, juga seseorang yang cukup jeli dalam merasakan hal–hal sederhana di sekitarnya yang bermanfaat baginya untuk mempelajari budaya di berbagai tempat.

Sensitivitas itulah yang membuatnya tidak hanya menjadi akademisi yang merasa pintar melihat sebuah fenomena. Tapi justru membuatnya bingung dengan keanehan–keanehan yang memacunya untuk belajar lebih banyak lagi, serta memperluas pandangannya akan dunia.

Buku ini, secara personal membuat saya berusaha untuk mengingat lagi akan perjalanan saya sendiri. Serta menyadarkan saya untuk tidak menjadikan perjalanan dan pengalaman–pengalaman saya saat bepergian ke tempat–tempat baru berlalu begitu saja menjadi kenangan, tanpa bisa memetik pelajaran dari apa yang bisa saya temukan.(*)

* Tulisan ini telah diterbitkan di Jurnal Sosial Pembangunan Indonesia “Sosiologika” Vol 1, No 1 (2018), Universitas Nasional