Pembangunan dan Nasib 13.634 Biodiversitas Flora di Atas Tanah Papua

webinar flora papua
webinar flora papua

Ada 13.634 jenis tumbuhan dengan biodiversitas flora tertinggi di dunia, ada di Pulau Papua. Sebanyak 68 persen di antaranya adalah spesies endemik yang hanya ada di Pulau Papua. Pembangunan, justru menjadi persoalan yang dikhawatirkan.

Wakil Rektor Bidang PPMK Universitas Nasional Prof. Dr. Ernawati Sinaga, M.S., Apt
Wakil Rektor Bidang PPMK Universitas Nasional Prof. Dr. Ernawati Sinaga, M.S., Apt

Masalah ini mencuat dalam Webinar Flora Papua yang digelar Rabu (14/10/2020) di Jakarta. Acara ini merupakan kerjasama Lembaga Penilitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Nasional, Universitas Cendrawasih, Universitas Papua dan LIPI.

Hadir sebagai pembicara utama, Prof. Dr. Dedy Darnaedi, M.Sc.. Guru Besar Unas. Pembicara lain adalah Prof. Dr. Charlie D. Heatubun, S.Hut., M.Si., Guru Besar Taksonomi dan Botani Hutan Universitas Papua, Dr. Lisye Iriana Zebua, dosen Universitas Cendrawasih, Dr. Atik Retnowati, S.P, M.Sc. dan Drs Albertus H. Wawo, Kepala Kebun Biologi Wamena, Papua, Pusat Penelitian Biologi-LIPI.

Acara dibuka oleh Wakil Rektor Bidang PPMK Unas, Prof. Dr. Ernawati Sinaga, M.S, Apt dengan moderator Dr. Ir. Nonon Saribanon, M.Si.

Dalam paparannya, Prof. Dr. Charlie D. Heatubun, S.Hut., M.Si. mengatakan bahwa Pulau Papua adalah pulau dengan kekayaan flora terbesar di muka bumi. Hal itu berdasarkan publikasi nature yang ia susun bersama dengan para peneliti dari berbagai institusi.

Prof. Dr. Charlie D. Heatubun, S.Hut., M.Si.
Prof. Dr. Charlie D. Heatubun, S.Hut., M.Si.

“Jadi, tumbuhan yang ada di bagian Papua menjadikan pulau ini terkaya di dunia dan ini menjadi sesuatu yang membanggakan,” ujar Prof Charlie.

Prof Charlie melanjutkan bahwa keanekaragaman tumbuhan yang ada di Pulau Papua, 16 persen lebih banyak daripada Madagaskar, negara yang ada di Afrika Timur. Dan, satu-satunya pulau tropis terbesar di dunia yang memiliki spesies endemik di Asia Tenggara.

Dari keunikan ini, Charlie menjelaskan bahwa keanekaragaman dan endemisme di tanah Papua menjadi tinggi dikarenakan laju spesiasi begitu tinggi yang disebabkan oleh mekanisme isolasi dan adaptasi. Spesiasi dan adaptasi dipicu oleh sejarah pembentukan Pulau Papua secara geologi, ketidakstabilan, ekosistem akibat tenaga alam, isolasi geografis dan fenomena ekologis seperti mid domain effect.

Meskipun demikian, biodiversitas flora Papua dihadapkan oleh berbagai tantangan ke depan. Seperti pembangunan infrastruktur, pembukaan lahan kebun sawit, pertambangan, penebangan hutan yang dikhawatirkan dapat menghilangkan keanekaragaman tumbuhan yang ada di pulau tersebut.

Upaya untuk melestarikan keragaman tumbuhan di bumi cenderawasih telah dilakukan dengan terus mengeksplorasi dan membuat database tentang keberadaan maupun keragaman spesies yang bekerjasama dengan 65 institusi.

“Upaya lain juga dilakukan dari pemerintah dengan menggandeng masyarakat dengan membangun komitmen dan kesadaran semua pihak, menyiapkan regulasi Peraturan Daerah Khusus (Perdasus) No. 10 tahun 2019 tentang pembangunan berkelanjutan di provinsi papua barat yakni komitmen melindungi, melestarikan, dan memanfaatkan keanekaragaman hayati (flora tanah Papua), menetapkan kawasan konservasi, dan mempersiapkan sumber daya manusia dan infrastruktur riset serta inovasi daerah,” jelas Charlie yang juga Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Provinsi Papua Barat. (*DMS)