Pelatihan Microgreen, Pengabdian Fakultas Pertanian Unas Atasi Ketersediaan Pangan di Desa Zona Merah

Ir. Asmah Yani, M.Si.
Ir. Asmah Yani, M.Si.
sayuran microgreen

Desa Bojong Gede menjadi salah satu desa yang ada di Kabupaten Bogor, yang sejak awal wabah pandemi covid-19 sudah masuk zona merah. Dengan jumlah penduduk sekitar 200-an ribu jiwa, desa ini punya persoalan serius selain menekan penyebaran virus, yaitu: masalah pangan!

Hal inilah yang kemudian menjadi salah satu pertimbangan penting ketika Fakultas Pertanian Universitas Nasional akan melaksanakan program Pengabdian Pada Masyarakat (PKM). Karenanya, sejak 24 Januari 2021, dirancanglah program PKM yang bisa memberikan manfaat secara langsung pada masyarakat.

Pada tanggal 4 Februari 2021, Fakultas Pertanian Unas akhirnya menyelenggarakan kegiatan pelatihan “Budidaya Microgreen dan Pemanfaatannya Dalam Pengadaan Sayuran”. Sasaran PKM adalah warga di Desa Bojong Gede, Kecamatan Bojong Gede, Kabupaten Bogor.

Ketua pelaksana PKM Fakultas Pertanian Unas, Ir. Asmah Yani, M.Si, mengatakan bahwa pengadaan pangan menjadi masalah utama bagi setiap keluarga di Desa Bojong Gede selama diterapkan kebijakan berdiam di rumah sebagai upaya untuk memutus rantai penyebaran wabah.

Pengadaan pangan, menurutnya, juga meliputi persoalan pemenuhan gizi, terutama yang bersumber dari sayuran. Nah, untuk kepentingan ini, sebenarnya bisa dilakukan budidaya di rumah. Salah satunya dapat menggunakan sayuran yang dibudidayakan secara microgreen.

Menurut Ir. Asmah Yani, M.Si, microgreen adalah sayuran hijau dan tanaman herbal yang dipanen saat masih muda, atau ketika daun kotiledon baru muncul yaitu setelah 7-14 hari setelah semai.

Kandungan nutrisinya sangat tinggi. Microgreen juga bukan jenis tanaman sayuran baru, tapi lebih pada cara atau teknik mengkonsumsi sayuran baru. Microgreen bisa diterapkan pada untuk tanaman sayuran yang sudah biasa dikonsumsi seperti, pakchoi, daun ketumbar, kol, kemangi, kangkung.

“Sayuran-sayuran ini bisa dikonsumsi ketika tanaman itu masih sangat muda, atau masih pada fase bibit,” katanya.

Selain itu, microgreen juga sangat mudah ditanam dan tidak memerlukan media khusus, lahan luas atau waktu yang lama untuk pertumbuhannya. “Ini menjadi salah satu alasan aktivitas ini sangat cocok untuk dilakukan di rumah,” tambahnya.

Melalui pelatihan microgreen ini, persoalan ketersediaan pangan pada rumah tangga setidaknya bisa diatasi. Dengan pemanfaatan lahan yang masih kosong, dapat dimungkinkan untuk dikembangan menjadi penghasil pangan rumah tangga.

Saat ini, khususnya di Indonesia, microgreen masih jarang ditemui, baik itu di pasar tradisional maupun di supermarket. Kalaupun ada, microgreens mayoritas dijual secara online dengan sistem pre-order, mengingat panennya hanya memakan waktu 7-14 hari dan daya simpannya yang relatif cepat.

Karena itu, selain dikonsumsi pribadi, microgreens juga memiliki prospek yang cukup menjanjikan untuk dijadikan bisnis. Hasil panennya dapat dijual atau bisa juga menjadi penyedia sarana untuk budidaya microgreens.

Budidaya microgreen juga mudah dipelajari, di samping kandungan gizi dan usia panen yang singkat sebagai keunggulan dari usaha budidaya microgreens. Harga microgreens di pasaran mencapai Rp 850 – Rp2000 per gramnya. Oleh karena itu, usaha ini memiliki turnover yang berkali-kali lipat dari modal yang dikeluarkan.

“Seiring dengan tren makanan sehat dan gaya hidup sehat yang sedang berkembang di Indonesia, tren microgreens juga diperkirakan akan ikut berkembang,” kata Ir. Asmah Yani, M.Si. (*)