Pandemi Bahasa yang Diabaikan

Kata wabah, di dalam kamus besar Bahasa Indonesia didefinisikan sebagai penyakit menular yang berjangkit dengan cepat, menyerang sejumlah besar orang di daerah yang luas. Sepadan dengan leksikon wabah, terdapat lema pandemi yang juga diartikan sebagai wabah yang berjangkit serempak di mana-mana, meliputi daerah geografi yang luas.

Pada titik ini kedua lema tersebut terbukti bersinonim. Selain dari kedua kata tersebut di atas, terdapat juga kata epidemi yang secara definisi disebutkan penyakit menular yang berjangkit dengan cepat di daerah yang luas dan menimbulkan banyak korban, misalnya penyakit yang tidak secara tetap berjangkit di daerah itu.

Begitulah epidemi tersebut didefinitifkan oleh para leksikograf. Berpijak pada definisi buatan para leksikograf, dapat disimpulkan ketiga kata tersebut bersinonim.

Wabah, Pandemi dan Epidemi, memiliki pengertian yang sama secara garis besar. Perbedaannya terletak dari sejarah tempat muasal lahirnya lema maupun kolokasi pemakaiannya yang tidak dapat dipertukarpakaikan pada akhirnya.

Uniknya, ketiga kata itu tidak secara seragam digunakan oleh semua orang untuk situasi dan fenomena yang sama-sama dihadapi. Ada yang memilih menggunakan lema wabah, meskipun pada umumnya memakai kata pandemi. Mungkin, kata tersebut dipilih karena produk impor dari negeri Yunani yang sudah diadaptasi dan lebih bergengsi ketimbang lema wabah yang merupakan produk lokal.

Ya, ketiga kata ini tetiba menjadi tidak asing bagi telinga rakyat Indonesia saat sebuah penyakit flu jenis baru yang disebut covid 19 menyebar di berbagai penjuru bumi. Covid 19 tetiba membuat semua pihak sibuk dengan berbagai macam kebijakan dengan persoalan yang menyertainya.

Semua merasa harus melakukan sesuatu yang dianggap perlu dalam rangka mengurangi angka persebarannya yang dapat menjangkiti siapapun.

Bagi yang sudah terjangkit, sejumlah kebijakan dan protokol kesehatan pun diterapkan. Mulai dari penjemputan, perawatan, hingga proses penguburan jenazah diatur sedemikian rupa. Ini wabah yang mengkhawatirkan.

Ini penyakit yang menakutkan. Ini virus yang membahayakan. Harus segara dicari cara untuk mengurangi persebarannya. Harus segera bertindak agar tidak banyak orang terjangkit. Harus segera dicarikan obat maupun vaksinnya.

Semua sibuk dibuatnya. Sebab semua orang ingin sehat. Sebab semua orang ingin baik-baik saja. Pun begitu semua terorientasi pada kesehatan fisik semata. Setidaknya, begitulah yang disimpulkan oleh penulis saat mengunyah fenomena covid 19 yang terjadi, saat semua orang ingin hidup sehat tanpa terjangkit penyakit.

Padahal, sebagai manusia, tentu saja harus terdiri dari dua unsur yang tidak melulu jasmani melainkan juga dilengkapi rohani. Fisik dan batin.

Pandemi Covid 19 yang telah merepotkan semua pihak termasuk Presiden Negara Kesatuan Indonesia periode 2019-2024, Joko Widodo, justru telah menunjukan adanya pandemi lain yang sangat menghawatirkan, juga menakutkan bagi penulis.

Pandemi yang tengah melanda penduduk Indonesia secara batin dalam waktu kurun terakhir. Yaitu pandemi bahasa asing yang menyerang ketahanan tubuh bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Sebagi bukti, sejumlah kosa-kata asing, semisal, Lock-Down, New Normal atau istilah-istilah lainnya terlontarkan dari mulut orang nomor satu di Indonesia.

Tak lupa pertunjukan sang leksikograf dadakan saat membuat definisi versi sendiri mengenai pengertian mudik dan pulang kampung. Sepele saja terlontar.

Pun demikian sebagai dampak yang ditimbulkan, kamus menjadi seolah tidak berguna atau setidaknya harus diterbitkan kembali dalam bentuk revisi. Jejak rekam sang leksikograf dadakan dapat ditemukan pada media digital maupun media cetak lainnya.

Semudah ditemukannya kosa-kata asing yang berseliweran di media cetak online, maupun dalam kehidupan sehari-hari masyarakat di Indonesia. Baik dalam wujud nama-nama bangunan, perumahan, makanan, hingga lontaran kata dalam pembicaraan sehari-hari.

Ini virus penyakit. Setidaknya, bagi perkembangan Bahasa Indonesia.
Persoalannya menjadi sangat tidak sederhana jika bahasa adalah cermin berfikir seorang manusia. Persoalannya menjadi sangat serius jika bahasa adalah jati diri sebuah bangsa. Persoalannya menjadi tidak sederhana saat bahasa adalah hasil kesepakatan bersama.
Terlebih, sejumlah peraturan telah disepakati untuk ditaati. UU No. 24 Tahun 2009, yang kelahirannya mulai direncanakan sekitar tahun 1995, namun terhalang belasan tahun demi menghindari sengketa hukum internasional, sebagai dampak perjanjian pemerintah Indonesia dengan negara-negara ASEAN.

UU tentang Bahasa adalah vaksin. Vaksin bahasa yang dibuat oleh bangsa Indonesia sendiri agar Bahasa Indonesia dapat bertumbuh kembang dengan baik menuju kesempurnaan bahasa ditengah serangan virus bahasa asing yang akan membuat bahasa Indonesia sakit.

Sebab bukan hal yang mustahil bahwa virus bahasa asing dapat membuat sakit atau mempengaruhi perkembangan bahasa Indonesia pada titik rusaknya.

Meski kemudian, kematian bahasa Indonesia adalah sebuah hal yang dianggap mustahil, namun fakta sejarah telah menunjukkan bahwa tidak sedikit bahasa yang mati akibat masuknya virus bahasa asing pada sebuah lingkungan masyarakat bahasa.

Vaksin itu belum sempurna. Secara tinjauan hukum. Undang-Undang No. 24 Tahun 2004 ini memiliki implikasi yang menuntut penyelarasan. Sebagai contoh, UU No. 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, terutama pasal-pasal yang berkaitan dengan tenaga kerja asing yang mau tidak mau harus direvisi demi keselarasan produk hukum.

Dalam hal ini ditambahkan mengenai poin bahasa. Baik penguasaan bahasa Indonesia bagi tenaga kerja asing, maupun pendampingan bahasa selama tenaga kerja asing tersebut belum menguasai bahasa Indonesia.

Ini bukti bahwa munculnya sebuah Undang-undang kadangkala menuntut revisi Undang-undang lain agar tercapai sebuah keselarasan.
Legislatorlah yang seharusnya berperan aktif mencari, menemukan serta dengan segera melakukan penyelarasan.

Di tengah persoalan selaras atau tidak selarasnya produk hukum, wabah terus merangsek sistem imun bahasa Indonesia. Sikap bahasa yang abai diperparah dengan proses digitaliasi media yang menjadi sarana paling efektif penyebaran virus-virus perusak bahasa secara cepat dan ampuh.

Situasi ini membutuhkan semacam vitamin untuk memperkuat vaksin. Paling tidak Perpres Nomor 16 Tahun 2010. Sejauh mana vaksin dan vitamin itu bekerja. Optimalkah? Sehingga pada perkembangan situasi selanjutnya diperlukan vitamin jenis lain.

Paling tidak, terbitnya Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 63 tahun 2019 tentang Penggunaan Bahasa Indonesia yang ditetapkan pada tanggal 30 September 2019 di Jakarta oleh Presiden Joko Widodo.

Apakah vitamin itu cukup efektif untuk memperkuat vaksin serta imun bahasa Indonesia dalam masa tumbuh kembangnya. Fakta membuktikan, bahasa hanya menjadi sarana komunikasi sesama tanpa peduli arah perubahan yang terjadi.

Baik terubahnya bunyi kata, pengubahan bentuk aksara, maupun terjadinya pergeseran makna. Bahasa Indonesia, tetap Bahasa Indonesia selama ia hidup dan ada.

Bahasa yang telah ditetapkan sebagai bahasa persatuan sejak 1928 Oktober dan resmi menjadi bahasa nasional pada tanggal 17 Agustus 1945 saat bangsa ini memproklamirkan kemerdekaaan, 75 tahun yang lalu, akan terus bertumbuhkembang entah menjadi seperti apa.

Di akhir tulisan ini terlontar sebuah pertanyaan, sampai sejauh mana daya rusak virus bahasa asing terhadap perkembangan bahasa Indonesia. Sejauh apa vaksin bahasa memperkuat imun bahasa Indonesia.

Kemudian, apa saja protokol menyehatkan yang harus segera kita lakukan demi menuju pertumbuhkembangan bahasa Indonesia menjadi lebih baik. Pun begitu, sebagus apapun vaksin, sehebat apapun vitamin, seoptimal apapun kerja imun, akan sia-sia lantaran sikap kita yang abai terhadap bahaya virus bahasa asing yang berpotensi mematikan di kemudian hari.

Jakarta 14.07.2020

Ikbal Muhammadan