Mantan Menristekdikti Tentang Cyber University dan Generasi Emas 2045

Prof. Drs. H. Mohamad Nasir, Ak., M.Si., Ph.D,
Prof. Drs. H. Mohamad Nasir, Ak., M.Si., Ph.D,

Universitas Siber Asia, mulai memasuki perkuliahan baru. Pada kesempatan awal, mahasiswa baru Unsia tahun akademik 2020/2021 mendapatkan kuliah umum dari mantan Menristekdikti, Prof. Drs. H. Mohamad Nasir, Ak., M.Si., Ph.D.

Prof Nasir menyampaikan kuliahnya melalui video learning. Materi yang disampaikan adalah perlunya cyber university di era revolusi industri 4.0 kepada mahasiswa baru Unsia.

Dalam paparannya, Prof Nasir menjelaskan tentang Kebijakan Pendidikan Tinggi di Era Revolusi Industri 4.0. Disampaikan bahwa  di era revolusi industri 4.0 ini, penyelenggaraan pendidikan jarak jauh atau pembelajaran daring memiliki peran strategis dalam pemerataan akses pendidikan di Indonesia.

Hal ini karena peningkatan kualitas pendidikan memerlukan pemerataan pendidikan. Melalui pemanfaatan teknologi informasi, seperti pembelajaran digital di era Revolusi Industri 4.0, maka pemerataan pendidikan bisa dicapai.

Melalui Learning Innovation Summit, atau model pembelajaran inovatif diharapkan dapat menjadi wadah dialog antara sektor publik dan sektor swasta untuk mendorong peningkatan akses dan kualitas pendidikan di Indonesia di era Revolusi Industri 4.0

Karena itulah, paradigma Tri Darma Perguruan Tinggi harus diselaraskan dengan era industri 4.0. Dimana, untuk menerapkan hal tersebut diperlukan tiga literasi baru, yaitu: 1) digital, teknologi dan human, 2) Kegiatan ekstra kurikuler untuk pengembangan kepemimpinan dan bekerja dalam tim dan 3) Entrepreneurship dan internship agar diwajibkan kepada mahasiswa.

Konsep pengembangan pendidikan ke depan adalah pendidikan Ssepanjang hayat. Karena itu, PT harus menyiapkan reskilling dan upskilling.

Paradigma baru ini harus dipersiapkan sejak saat ini. Karena, Indonesia memiliki bonus demografi, dimana pada tahun 2045 nanti, jika tidak dipersiapkan secara baik, akan berakibat tidak baik untuk generasi emas,

Siapa generasi emas 2045?

Menurut Prof Nasir, mereka adalah masyarakat yang beradab, masyarakat yang memiliki kebudayaan luhur, teknologi canggih, sistem pemerintahan yang bersih dan adil, serta tatanan hidup yang aman dan nyaman bagi sebagian besar anggotanya.

Pencapaian generasi emas juga akan bergantung pada Human Development Index. Saat ini, Indonesia masuk dalam kategori pembangunan tinggi. United Nations Development Programme (UNDP) memberikan skor 0,707 untuk indeks ini. Dengan skor ini IPM Indonesia berada di peringkat 6 di Asia Tenggara.

Untuk peningkatan Human Development Index, diperlukan berbagai orientasi baru dalam penguatan pendidikan dan pengetahuan. Terutama dalam hal pembelajaran dan keterampiran yang inovatif, keterampilan literasi digital, juga kemampuan dalam peningkatan karier dan kehidupan.

Bagi bangsa Indonesia yang religius, keterampilan-keterampilan (skills) tersebut perlu dilandasi dengan nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan, dan social agar hasil pendidikan membawa maslahah.

Adapun tantangan-tantangan yang akan dihadapi di era industri masa depan, diantaranya adalah: Complex Problem Solving. Di sini diperlukan Kemampuan untuk memecahkan masalah yang asing dan belum diketahui solusinya di dalam dunia nyata.

Selain itu, diperlukan adanya Social Skill atau kemampuan untuk melakukan koordinasi, negosiasi, persuasi, mentoring, kepekaan dalam memberikan bantuan hingga emotional intelligence. Selanjutnya adalah Process Skill, yaitu kemampuan yang terdiri dari: active listening, logical thinking, dan monitoring self and the others.

Menjawab tantangan yang dihadapi oleh Pendidikan Tinggi, UNSIA yang menjadi pengembangan dari Universitas Nasional, dinilai mampu memberikan solusi dan senantiasa hadir memberikan pendidikan dan pengajaran yang berkualitas, dengan akses yang luas dan adil.

Dalam revolusi pendidikan tinggi, UNSIA juga dinilai mampu merespon, salah satunya dengan turut memberikan pendidikan jarak jauh (PJJ) yang memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) atau berbasis e‐learning. UNSIA juga turut berkontribusi dalam memperluas akses pendidikan, mengoptimalkan layanan Pendidikan Tinggi kepada kelompok masyarakat yang tidak dapat mengikuti pendidikan secara tatap muka dan reguler serta mempermudah akses pembelajaran dan sumber belajar sehingga dapat dijangkau oleh peserta didik di seluruh Indonesia.(*)