Jurnalis Multitasking di Era New Media

Nursatyo, S.Sos., M.Si.
Nursatyo, S.Sos., M.Si.

Era digital menjadi era yang tidak bisa dihindari di dunia jurnalistik. Kemampuan jurnalis untuk beradaptasi dengan ekosistem digital, akan menentukan kemampuan profesionalnya.

Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Nasional (Unas), Drs. Adi Prakosa, M.Si, menilai bahwa saat ini para calon jurnalis harus memiliki kemampuan untuk beradaptasi dengan kondisi tersebut.

Hal ini disampaikan oleh Drs. Adi Prakosa, M.Si dalam Webinar Nasional Laboratorium Unas TV yang mengambil tema:”Be a good journalist in digital era”, yang digelar Rabu (19/08/2020).

Dikatakan bahwa dunia jurnalistik saat ini telah berkiblat pada era digital. Semuanya harus bisa menangkap momen ini dengan kecepatan taktis. Perkembangan teknologi yang pesat, menuntut para jurnalis untuk mampu bertransformasi.

Karena itu, bagi mereka (mahasiswa) yang akan memasuki dunia jurnalistik, harus memiliki bekal yang cukup agar menjadi jurnalis yang handal.

“Penerapan teknologi di era digital ini mengalami banyak perubahan. Oleh sebab itu para calon jurnalis (mahasiswa) harus bisa menyesuaikan dengan kondisi yang terjadi dengan mengikuti perkembangan jaman,” ujarnya

Hadir juga sebagai pembicara, Sekretaris Prodi Ilmu Komunikasi, Nursatyo, S.Sos., M.Si. Dalam kesempatan itu, Nursatyo mengatakan bahwa saat ini praktik jurnalisme tengah memasuki era ‘new media’.

Ini adalah era dimana terjadi penggabungan antara teknologi digital dan internet. Hal ini memberikan dampak bagi perusahaan, konten media, peliputan berita, hingga sosok jurnalis.

“Bagi lembaga media, saat ini munculnya konvergensi jurnalistik yang menggabungkan konten dengan berbagai format media. Juga berkembangnya konten jurnalistik seperti pemanfaatan infografis, podcast, jurnalisme data. Situasi ini mengharuskan jurnalis multitasking dengan melakukan semua peliputan seorang diri,” jelas dosen Ilmu Komunikasi itu.

Oleh sebab itu, lanjut Nursatyo, calon jurnalis perlu memiliki beberapa bekal, yakni creative thinking. Caranya, dengan terus mengasah cara berpikir, kemampuan beradaptasi dengan perkembangann teknologi, kemampuan multimedia, dan menanamkan jurnalisme sebagai pembelajaran seumur hidup serta terus mengadopasi perkembangan teknologi yang begitu cepat.

Chelzea Verhoeven
Chelzea Verhoeven

Senada dengan hal tersebut, news presenter dan reporter NET TV, Chelzea Verhoeven mengatakan bahwa calon jurnalis harus terus mengikuti perkembangan jaman dengan melek teknologi.

Hal ini berpengaruh dengan kerja jurnalis yang selalu dituntut cepat dan tanggap. “Kerja di media menuntut jurnalis untuk bisa peka terhadap peristiwa yang terjadi. Kerja cepat dan banyak ilmu. Namun, tetap tidak mengesampingkan kode etik jurnalistik dengan tetap menjaga kualitas pemberitaan, misalnya,” ujar Chelzea.

Menurutnya, menjadi jurnalis di era digital mengharuskan memiliki kemampuan beradaptasi, selalu mengikuti trend di masyarakat, tepat waktu, dan menjaga kredibilitas.

“Menurut saya jurnalis harus bisa beradaptasi terhadap platform digital yang ada, mengikuti konten yang sedang hangat diperbincangkan, mengedepankan keakuratan berita dan ketepatan, serta kredibilitas dengan mempertanggungjawabkan apa yang kita tulis,” katanya.

Pembicara lain, producer tvOne, Sandy Oogway mengatakan bahwa jurnalis di era digital harus memiliki ide yang kreatif serta terus mengembangkan diri dari segi penulisan.

“Kalau mau berkembang, ya jurnalis harus kreatif. Membuat konten semenarik mungkin dan terus eksplore kira-kira apa yang bisa diangkat dan diterima masyarakat,” tuturnya.

CEO Communicasting Academy itu melanjutkan, jurnalis di era digital juga harus pandai membangun networking yang luas untuk meningkatkan ilmu pengetahuan. “Jurnalis harus bisa memanfaatkan belajar ilmu diluar bidangnya sendiri, karena jurnalis itu semuanya dipelajarin jadi harus terus gali ilmu,” katanya.

Sandy menambahkan, ada tiga hal penting yang bisa dilakukan jurnalis untuk membuat konten di era digital. Pertama, membuat cerita/naskah yang menarik, membangun karakter narasumber, menghindari ambigu dan kata yang subjektif, serta selalu melakukan check dan recheck sebelum publikasi. (NIS)