Hilman Hariwijaya : Mahasiswa “DO” Unas yang Sukses

Hilman Hariwijaya Unas
(foto: http://ceritanovellupus.blogspot.com)

Siapa yang tidak kenal Hilman Hariwijaya? Pencipta tokoh rekaan bernama “Lupus”. Karya-karya yang memikat remaja di masanya itu, membuat ia tercatat sebagai salah satu nama penulis Indonesia.  Bahkan, namanya diidentikan dengan serial tokoh rekaannya. Hilman “Lupus” Hariwijaya. Menurut data dinas kependudukan, penulis yang penuh ide konyol itu dilahirkan oleh ibunya di Jakarta pada tanggal 25 Agustus 1964.

Sejak kecil ia sudah memiliki hobi menulis. Mulai dari menulisi buku tulis hingga kemudian melatih diri menulis sebagai wartawan paruh waktu pada majalah HAI sejak usia dini. Setidaknya, ia adalah satu-satunya wartawan yang masih berstatus pelajar Sekolah Menengah Pertama. Dan, dengan cara itulah ia mendapat tambahan sedikit uang jajan.

Alih-alih melatih tulisan dan mencari uang jajan tambahan, ia mengembangkan ketrampilan menulisnya dengan menulis sebuah cerpen.  Cerpen pertamanya berjudul “Bian Adikku Yang Tak Pernah Ada” (1978) adalah debut pertamanya menulis cerita pendek. Karya pertamanya tidak begitu menyita perhatian publik. Pun begitu, cerpen itu menjadi kiprah awal kepenulisannya.

Ya, kiprah menulisnya dimulai dari rasa ingin tahu mengenai dunia tulis menulis. Setiap kali ia pulang sekolah ia mendatangi kantor redaksi majalah HAI. Sampai ia kemudian mulai dilibatkan sebagai wartawan paruh waktu di majalah tersebut.

Di majalah HAI inilah, ia terus melatih teknik menulisnya. Untuk mendalami seni menulis, selepas sekolah menengah atas, Hilman melanjutkan studinya di Fakultas Sastra Inggris, Universitas Nasional.

Di kampus inilah ia kemudian mematangkan tehnik menulisnya. Segala sesuatu yang bertalian dengan ilmu sastra; Mulai dari kemahiran menulis, analisis alur, tokoh dan penokohan dalam alur cerita, hingga kekuatan diksi dan imajinasi ia dapatkan di kelas-kelas kuliah. Hingga kemudian setelah mempelajari seluk beluk karya sastra, cerita-cerita lepasnya belakangan meledak di pasaran.

Sambil menempuh pendidikan sastra di Universitas Nasional, Hilman kian serius memokuskan diri pada ekplorasi kemampuan menulis bergenre cerpen yang mengarah ke novel. Bukan genre jurnalistik dengan konsep 5w + 1 H-nya yang telah dipelajari dan dimatangkannya sebagai wartawan paruh waktu di majalah remaja HAI semenjak sekolah menengah pertama.

Pemunculan Tokoh Lupus

Meski belum menyelesaikan pendidikannya di Universitas Nasional, cerita lepas Hilman Hariwijaya mulai terbit di media. Bahkan cerita lepasnya kemudian menyita perhatian publik remaja pada masa itu.

“Tangkaplah Daku kau Kujitak” yang memperkenalkan tokoh “Lupus” mendapatkan sambutan hangat dari pembaca, hingga penerbit memutuskan untuk menerbitkannya menjadi sebuah buku lepas. Nama Hilman Hariwijaya dan Lupus mulai dikenal khalayak ramai.

Produktifitasnya terus mengalir. Cerpen-cerpen lepasnya kemudian diterbitkan untuk memenuhi selera konsumen dan khalayak pembaca.  Berikut ini adalah sejumlah tulisan Hilman Hariwijaya yang pernah diterbitkan antara lain ;

1. Tangkaplah Daku Kau Kujitak (November 1986)
2. Cinta Olimpiade (Februari 1987)
3. Makhluk Manis dalam Bis (Juni 1987)
4. Tragedi Sinemata (Oktober 1987)
5. Topi-topi Centil (Maret 1988)
6. Bangun Dong, Lupus (Agustus 1988)
7. Sandal Jepit (Juni 1989)
8. iiih, syereem! (Juli 1990)
9. Idiiih, Udah Gede (Desember 1990)
10. Drakuli Kuper (Ih, Syereem Part 2) (Maret 1992)
11. Lupus ‘n Work (Maret 1994)
12. Interview With The Nyamuk (Mei 1995)
13. Yang Paling Oke (September 1995)
14. Cowok Matre (Juni 1996)
15. Mission: Muke Tebel (Maret 1997)
16. Gone With The Gossip (Oktober 1997)
17. The Lost Boy: Salah Culik (1998)
18. Kutukan Bintik Merah (1998)
19. Krismon (1998)
20. Sereeem (1999)
21. Boys Don’t Cry (1999)
22. Bunga Untuk Poppy (2000)
23. Candlelight Dinner (2000)
24. Lupus Milenia 1 – Boneka di Taman Sekolah (2001)
25. Lupus Milenia 2BeTe (2002)
26. Lupus Milenia 3 – PDKT (2002)
27. Cinta Seorang Seleb (2005)
28. Lupus Return: Cewek Junkies (2007)

Lupus ABG (With Boim LeBon)
1. Lupus ABG (Maret 1995)
2. Jadi Lupa Sama Yang Lain (Juli 1995)
3. Cinta Lupus (September 1995)
4. Ringan Sama Dijinjing, Berat Sama Difficult (Maret 1996)
5. Bohong Itu Nyontek (September 1997)
6. Simalakama (1998)
7. Sur… Sur… Surprise (1999)
8. Telepon Umun dan Kecoak Nungging (1999)
9. Cemburu Berdarah Dingin (2000)
10. Berantem Gaya Baru (2002) ** (created by otoy)
11. My Grandma Dream’s (2005)

Lupus Kecil (With Boim LeBon)
1. Lupus Kecil (Februari 1989)
2. Sunatan Massal (Juni 1990)
3. JJS: Jalan-jalan Seram (Juli 1991))
4. Rumpi Kala Hujan (Juni 1992)
5. Sakit, Lah, Dekh, Dong, Weew (Februari 1993)
6. Duit Lebaran (Maret 1994)
7. Bolos (Desember 1994)
8. Terserah Si Ehem (1998)
9. Guruku Manis Sekali (1998)
10. Kucing Asuh Bernama Mulan (1999)
11. Repot… Repot… Repot…! (2000)
12. Iiih, Rakuuut! (2001)
13. Diam Belum Tentu Emas (2003)

Pemunculan Tokoh Olga dan Lulu

Selain memperkenalkan tokoh bernama Lupus. Hilman Hariwijaya juga memperkenalkan tokoh rekaan lainnya dalam karya-karya lepasnya. Tokoh rekaan itu kemudian dikenal sebagai Olga. Menurut fakta jurnalistik, Olga merupakan karakter tokoh wanita yang diciptakan Hilman di majalah Mode. Kemudian karya-karya yang memunculkan tokoh rekaan bernama Olga mulai dibukukan pada Juli 1990.

Secara garis besar, tokoh Olga diceritakan sebagai pelajar yang bekerja sampingan sebagai penyiar radio di Radio Ga Ga. Ia tinggal bersama kedua orangtuanya, dan memiliki sahabat, Wina.

Lagi-lagi, tokoh rekaan Hilman ini mendapat sambutan hangat dari pembaca remaja di masanya. Untuk memenuhi kepuasan penggemar serial Olga, kumpulan cerpen itupun, selain diterbitkan juga diangkat ke layar lebar maupun sinetron yang diperankan oleh Desy Ratnasari, Sarah Sechan, Melly Manuhutu, dan Sissy Priscillia berperan sebagai Olga.

Sementara itu, tokoh rekaan lainnya juga dimunculkan oleh Hilman Hariwijaya. Tokoh rekaan itu bernama Lulu yang merupakan pemekaran dari cerita Lupus. Lulu adalah tokoh sang adik, Lupus.

Tidak Menulis Sendiri

Dalam dunia kepenulisan, yang pada umumnya bersifat individual, ternyata Hilman Hariwijaya dapat berkreatifitas bersama rekan-rekannya dalam menghasilkan cerpen-cerpen lepasnya. Mereka adalah Boim LeBon dan Gusur Adhikarya.

Tentu saja, kombinasi gagasan diantara mereka bertiga kian menghangatkan ide-ide jenaka dan kreatifitas di dalam cerita, serta pengembangan imaginasi. Sejumlah cerpen lepas yang diterbitkan menjadi buku antara lain:

Sohib Gaib – November 1992
SMA Elite – September 1993
Mimpi Full Colour – 1998
Reformasi Damai – 1998

Keluarga Hantu

Pada serial “Keluarga Hantu” yang merupakan seri keempat Hilman bersama Boim, berkisah tentang Luyut, anak hantu yang ingin mencoba bergaul dengan manusia. Namun ditentang oleh Nates (ayah) dan Kanalitnuk (ibu).

Napak Tilas Para Hantu – November 1992
Sidang Para Hantu – Maret 1994

Vanya

Selain dari Boim Lebon dan Gusur, Hilman Hariwijaya juga pernah berkereatifitas bersama dalam menghasilkan cerita-cerita remajanya. Katakan saja karyanya berjudul Vanya, merupakan seri kelima karya Hilman yang ditulis bersama A. Mahendra pada tahun 1994.

Vanya ini berkisah tentang wanita Jakarta yang kuliah di Bandung. Buku ini telah disinetronkan dan diperankan oleh Astrid Tiar.

Kenduri Karet – September 1994
Buaya-buaya Geologi – Desember 1995
Kleptomania – 1998
Surat Izin Mati – 1999
Eh, Ada Cowok Baru – 2000
Cowok Termiskin di Dunia – 2002

Selain dari Vanya, kreatifitas antara Hilman Hariwijaya bersama A. Mahendra adalah Vladd, yang merupakan seri adalah seri keenam karya Hilman. Vladd berkisah tentang pelajar SD yang genius.

Remote Control Boy – 1998
Game Over – 1999
Space Boy – 2000
Millenium Boy – 2000 (Komik, ditulis bersama Widay)

Buku lain

Seri Cerita Cinta
Cerita Cinta – 2000
Simfoni Biru – 2001

Seri Mambo
Mambo – 2001

Seri Sexy Sixx (bersama Boim)
Sexy Sixx – Agustus 2001
Peluk Aku, Jitak Aku – Januari 1993
Seri Dua Pelangi (bersama Gustin)
Anak Borju, Nggak Boleh Belagu

Karya lepas
Dancing on the Valentine – Januari 1990
Cafe Blue – April 1990
Rasta dan Bella – April 1991
10 Tokoh Showbiz Musik Indonesia – 1991
Gilas & Sam: Pedepokan Rese – September 1993

Itulah karya-karya Hilman Hariwijaya. Kepenulisannya pernah mewarnai jagat kepenulisan Indonesia dengan segmentasi pembaca remaja. Ratusan ribu hingga jutaan eksemplar karya-karyanya laku terjual di pasaran buku nasional.

Karyanya juga tidak sedikit yang diangkat ke layar lebar maupun sinetron. Ya, Hilman Hariwijaya memang sukses menjadi penulis. Sayang, keberhasilannya dalam dunia tulis menulis tidak seiring dengan keberhasilannya di dalam dunia pendidikan.

Menurut catatan resmi dunia pendidikan, Hilman Hariwijaya tidak pernah menyelesaikan jenjang pendidikannya di Universitas Nasional hingga tuntas alias “Stop Out” meski tidak ter-catat sebagai mahasiswa ter“Drop-Out” resmi.(Diambil dari berbagai tulisan di internet)

Jakarta, 15/09/2020