Cerita Yulia Tentang Anak-anak di Desanya yang Menikah Dini

Yulia Dwi Rahmawati, Unas
Yulia Dwi Rahmawati, mahasiswi FEB Unas

Namanya, Yulia Dwi Rahmawati. Asalnya dari desa. Saat ini sedang menempuh pendidikan Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Nasional.

Ya, Yulia adalah mahasiswi angkatan 2018. Pada tanggal 13 September 2020 lalu, pada malam grand final pemilihan Duta Generasi Berencana (Duta GenRe) Kota Administratif Jakarta Selatan, Yulia Dwi Rahmawati terpilih sebagai Juara 1 Puteri lomba Duta GenRe.

Pemilihan Duta GenRe adalah ajang kompetisi yang diinisiasi Suku Dinas Pemberdayaan, Perlindungan Anak dan Perempuan, dan Pengendalian Penduduk (Sudin PPAPP) DKI Jakarta bekerja sama dengan BKKBN. Untuk kompetisi kali ini, dilaksanakan secara online dan offline, yang dilaksanakan di Jalan Siaga 1.

GenRe adalah singkatan dari Generasi Berencana. Ini adalah program perpanjangan tangan dari BKKBN (Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional) yang fokus pada remaja untuk mensukseskan bonus demografi 2030-2045. Tujuannya dengan cara encourage remaja untuk menjauhi TRiad KRR (Kesehatan Reproduksi Remaja) yaitu Penyalahgunaan NAPZA, Seks pranikah, dan pernikahan dini.

Yulia Dwi Rahmawati ikut dalam kompetisi ini, karena keresahannya. Yulia yang berasal dari desa melihat banyak sekali anak yang menikah di bawah umur 19 tahun. Dan ia ingin menurunkan angka pernikahan dini dengan ilmu yang didapat dari Genre.

“Saya dari desa. Banyak banget anak yang menikah di bawah 19 tahun. Saya mau menurunkan angka pernikahan dini itu dengan ilmu yang cukup. Jadi nggak cuma ngomong doang. Makanya saya ikut ke GenRe ini,” kata Yulia.

Proses kompetisi dimulai dengan Yulia Dwi Rahmawati mengikuti seleksi berkas. Kemudian masuk ke Top 50 (semifinalis) dan lanjut ke Top 7 (finalis).

Awalnya, ia sempat grogi ketika masuk karantina selama kurang lebih 1 bulan. Waktu itu dia dinyatakan masuk ke Top 7 (finalis). Menurutnya, hampir semua yang lolos ke babak ini cantik, pinter, dan memiliki kemampuan public speaking yang bagus.

Tapi Yulia tetap semangat dan memperbaiki kekurangan. “Pertama dari seleksi berkas, kemudian masuk ke Top 50 (semifinalis) dan lanjut ke Top 7 (finalis). Nah yang Top 7 ini semuanya bagus, cantik, pinter, public speakingnya jago-jago banget. Pernah merasa down sih di tengah karantina. Tapi setelah itu semangat lagi dan terus belajar perbaiki kekurangannya dimana. Konsisten, doa, dan usaha pantang menyerah. Itu mungkin yang membuat saya juara,” lanjutnya.

Universitas Nasional sangat mendukung mahasiswanya untuk berprestasi di bidang akademik maupun non akademik. Yulia pun mendapat support hingga difasilitasi oleh Universitas Nasional.

Karenanya, Yulia berpesan kepada seluruh mahasiswa, sebagai remaja harus lebih aktif, produktif, dan kreatif untuk ikut berkontribusi membangun bangsa dan jauhi Triad KKR (penyalahgunaan napza, seks sebelum menikah, dan pernikahan dini).

“Sehingga kita bisa memaksimalkan bonus demografi dan menggapai cita-cita bangsa yaitu Indonesia emas 2045,” katanya.(*)